Minggu, 12 Mei 2013

International Batik Center Pekalongan

Kalau sering mudik lewat pantura, pasti tahu dong kota Pekalongan. Dari arah Jakarta, Pekalongan berada setelah kota Pemalang dan sebelum kota Batang. Pekalongan memang sangat terkenal dengan batiknya. Katanya hampir semua rumah di sana berkecimpung dalam hal2 yang berhubungan dengan batik, entah sebagai pedagang, produsen, pembatik, desainer, atau sekedar mempelajari. Dan semua orang di Pekalongan pasti paham tentang tipe batik dan bisa membedakan karakter batiknya. Karena inilah mungkin di kota ini berdiri sebuah pusat perbelanjaan batik terbesar yang dinamakan International Batik Center (IBC).

Pada kesempatan pulang kampung beberapa bulan lalu, dalam perjalanan kembali ke Jakarta aku sempatkan mampir karena ingin tahu. Hal-hal yang berhubungan dengan batik memang selalu menarik perhatianku.

Lokasi IBC cukup strategis, tepat berada di pinggir jalur Pantura, tepatnya masuk wilayah kecamatan Wiradesa. menempati lahan seluas 4 hektar dengan area parkir cukup luas, kita disambut gapura besar dengan simbol canting raksasa, sangat berciri khas batik dan sangat unik.


Gerbang dengan simbol canting (gambar dari fashionpro magazine)


Tempat ini menawarkan berbagai koleksi batik dari berbagai daeah di Pekalongan, dan juga dari kota sekitarnya, tetapi bila dilihat dari ciri khas batiknya yang berwarna-warni cerah dan motif beragam, sangat kental dengan karakter Pekalongannya. Range harga yang ditawarkan juga sangat beragam, mulai blus dengan harga ratusan ribu sampai di bawah seratus ribu. Motif dan warna serta bahan yang tidak biasa kita jumpai di pasaran juga saya lihat di sini. Tapi harganya lumayan juga. 

Kalau di Jakarta kita punya Pusat batik nusantara di Thamrin City, sebetulnya koleksi dan harga yang ada di sana tidak terlalu beda dengan IBC. Tetapi memang belanja di IBC terasa berbeda aja,
mungkin karena langsung di tempat asalnya ya, apalagi dengan tempat yang asri dan sangat berciri khas Jawa. Kalau pintar-pintar milih dan nawar, kita juga bisa dapat baju batik bagus dengan harga cukup murah, yang agak jarang ditemui di Jakarta.

Halaman depan IBC

Pengembangan pusat budaya seperti ini harus dilestarikan dan didukung. Meskipun menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah kota dan para pengusaha serta pedagang batik karena lokasinya bukan berada di pusat kota besar seperti di Jakarta, semoga tetap bisa menjadi harapan agar batik asli buatan pengrajin Indonesia tetap jaya.

Mobil operasional IBC bermotif batik


Sabtu, 11 Mei 2013

Taman Buah Mekarsari



Liburan yang hanya sehari, karena tidak bisa memperpanjang dengan cuti di harpitnas Jumatnya, kami manfaatkan untuk jalan-jalan ke taman buah Mekarsari, yang tidak trlalu jauh dari rumah. Kebetulan juga sedang ada ayahku yang dating nengok anaknya di Jakarta ini.

Perjalanan ke Mekarsari Cileungsi dapat ditempuh melalui rute, dari rumah ke pintu tol JORR – Ampera selama 10 menit, dari Ampera sampai keluar tol Cibubur kurang dari 30 menit karena cukup lancar. Tapi dari keluar pintu tol memasuki jalan alternative Cibubur ini lain cerita, jalur yang memang terkenal padat ini ternyata masih padat juga di hari libur. Saya rasa factor utama memang karena banyaknya volume kendaraan akibat semakin banyak pula perumahan di sekeliling kawasan tersebut, tanpa ada alternative jalan lain. Di samping itu, begitu banyak putaran balik yang dijaga pak ogah juga turut memperparah kemacetan dan kesemrawutan. Mulai keluar tol sampai masuk taman buah Mekarsari harus kami tempuh hampir 1 jam.

Peta kawasan Taman Buah Mekarsari

Tiket masuk Mekarsari di hari biasa sebesar Rp 15.000/orang hari biasa dan Rp 20.000/orang hari libur, plus Rp 10.000 untuk parker roda 4. Ini untuk masuk ke area saja, sementara kalau mau keliling kebun buah harus naik kereta kelinci dan bayar lagi Rp 10.000/orang. Ya namanya ke kebun buah, pasti semua orang pingin keliling lihat2 kebuh buahnya kan…heheh.

Kereta kelinci dan Badut Buah
Naik kereta kelinci cukup mengasikkan, kita bisa santai sambil melihat pohon-pohon buah di perbunan tersebut sambil dipandu guide merangkap sopir. Jadi untuk menjadi sopir kereta kelinci ini gak sekedar harus bisa nyetir, tapi juga harus ngerti masalah pertanian, hapal nama-nama pohon plus bahasa latinnya, dan bisa berkomunikasi.

Di area Mediteranian Exotic kami bisa melihat pohon buah yang sebelumnya belum pernah melihat seperti Menteng, Sawo kecik, Dewandaru, dll. Di area melon kami juga melihat pohon melon tumbuh menggantung di dalam green house. Mas guide nya juga menjelaskan bahwa melona dalah tanaman semusim, artinya setelah berbuah, dipanen, langsung mati atau tidak dapat berproduksi lagi. Serupa dengan pohon semangka dan pisang. Saat itu sedang musim panen jeruk, tapi kami tidak ke kebun jeruk karena memang tidak membeli tiket untuk paket panen buah.

Pohon Dewandaru
Pohon Sawo Kecik
Setelah mengelilingi kebun, yang tidak sampai ke ujungnya (kecuali membeli tiket khusus paket panen buah) kereta kelinci menurunkan kami di area danau. Di sini kita bisa menikmati keindahan danau dan udara segar di bawah pohon rindang. Nampak ada panggung dan tenda di kebun kelapa di tepi danau yang ternyata memang disewa untuk acara group. Kami hanya berjalan melintasi jembatan gantung  bercat kuning menuju pulau kecil di tengah danau, yang nampaknya adalah pulau buatan.

Danau dan waterboom di seberang 
Dari danau kami kembali menaiki kereta kelinci yang sudah menanti untuk kembali area entrance. Sampai entrance kami sempatkan makan siang di kantin mekarsari karena memang sudah jam nya makan siang, kemudian kami mampir ke took buah. Buah yang dijual di sini lumayan bagus, segar, dan cukup murah. Saya membeli belimbing, jeruk bali, salak, timun suri, jambu merah dan sirup pala. Saat melewati fruit center tempat penjualan aneka bibit pohon buah, kami mampir sebentar untuk melihat-lihat. Ternyata ayahku yang memang hobi tanam-menanam tertarik untuk membeli pohon jambu ball untuk ditanam di pekarangan depan rumah di kampung. Dengan hanya Rp 25 ribu kami bisa membawa pulang bibit jambu bol dengan tinggi sekitar 1 meter itu.

Akhirnya kami pulang dengan menenteng belanjaan buah dan bibit jambu bol. Meskipun harus menempuh kemacetan Cibubur, kami merasa senang mendapat pengalaman baru di mekarsari.

Kamis, 09 Mei 2013

Ngaben di Sangeh

Dalam perjalanan pulang dari Sangeh, taman wisata yang berisi monyet liar tapi jinak di daerah Sangeh, antara Denpasar dan Bedugul, kebetulan kami menjumpai salah satu momen yang sebelumnya belum pernah kami lihat. Sebetulnya acara ini cukup populer dan hanya ada di Bali, yaitu prosesi kremasi mayat atau ngaben.

Awalnya kami melihat sekumpulan orang di sebuah tanah lapang desa, dan sebuah kereta hias di dekatnya. Semula kami mengira itu hanya acara adat semacam ibadah. Tetapi tak jauh dari kumpulan itu kami melihat ada api unggun yang menyala cukup besar. Kami langsung mengira itu prosesi ngaben. Penasaran, kakak iparku yang saat itu menyetir langsung meminggirkan mobil. Hanya kakak ipar, suamiku, dan keponakanku alias para laki-laki yang berani turun. Sementara kami cewek2 hanya melihat dari dalam mobil. Bahkan keponakanku berani melihat dari dekat sambil memegang kamera.

keluarga/orang dekat berkumpul di depan pembakaran

Kalau dulu mungkin kita sering lihat dari TV, proses ngaben itu menggunakan banyak kayu bakar dan membutuhkan waktu yang sangat lama, tetapi yang aku lihat di sini sudah berbeda. Tidak nampak tumpukan kayu bakar menggunung, karena sudah diganti bahan bakar gas, kami melihat ada tabung gas besar seperti pompa di tempat pengisian angin atau tambal ban. Dengan cara ini mestinya proses pembakaran bisa dilakukan lebih cepat. Menurut suamiku yang turun ke situ, dari kejauhanpun dia sudah merasakan hawa panas dari apinya. Wah, gak kebayang kalo di dekatnya. Tapi sang juru bakar terlihat baik-baik saja ada dekat sekali dengan pembakaran.

                                                                   bade atau kereta untuk mengangkat jenazah

Kalau lihat dari dekat, bisa melihat tubuh jenazah yang sudah ada di dalam api. Ngeri memang, makanya aku gak berani lihat. Ini foto api dari jarak cukup dekat, ada yang lebih dekat dan lebih jelas, tapi gak berani posting di sini :)

pembakaran

Untuk lebih tahu mengenai proses ngaben itu sendiri, ini saya ambil dari wikipedia.

Ngaben atau upacara kremasi, adalah acara di Bali untuk mengirimkan jenazah pada kehidupan selanjutnya. Jasad orang meninggal akan ditempatkan seolah mereka sedang tidur, dan keluarga akan memperlakukan seolah mereka memang sedang tidur. Tidak ada tangisan, karena jenazah hanya dianggap tidak ada untuk sementara dan akan bereinkarnasi pada kehidupan beirkutnya atau menemukan tempat peristirahatan terakhirnya (bebas dari reinkarnasi dan siklus hidup).

Pada hari upacara, jasad ditempatkan dalam peti, lalu peti dimasukkan ke dalam keranda atau yang disebut sorkofagus dengan struktur candi/temple yang terbuat dari kertas dan kayu, kemudian keranda akan dibawa ke tempat pembakaran. Prosesi membawa keranda ini harus berjalan tidak melalui jalur lurus, untuk membuat bingung roh jahat dan menjauhkannya dari jenazah.

Puncak prosesi ngaben adalah saat pembakaran seluruh struktur termasuk jasad. Api yang membakar itu untuk membebaskan jiwa dari tubuh dan bereinkarnasi.
Prosesi ngaben dapat dilakukan segera atau dalam waktu lama. Pada kasta yang lebih tinggi, upacara ngaben dapat berlangsung selama 3 hari.




Singapore Trip 2


Day-2 alias hari Minggu, saatnya berkelana lagi. Agenda hari ini pingin site seeing aja. Tapi yah itulah…gak banyak yang bisa dilihat di Singapore terutama buat pecinta alam seperti kami. Sempat kepikir ke Singapore Zoo atau Bird park, tapi malah diketawain temanku yang Singaporean…”kayak di Indonesia gak ada aja” malah gitu komennya. Tapi iya sih, secara rumah deket KB Ragunan, kok malah mau ke KB Singapore yang jelas mahalnya. Kalau ke Sentosa dan Universal, selain kurang tertarik juga waktunya takut gak cukup, karena flight hubby balik ke Jakarta sore.

Akhirnya diputuskan yang gampang aja, tapi tetep dapet view sekedar buat menyalurkan hasrat berfoto-foto. Sebelum ke MRT Station Bugis, kami sarapan dulu di kafe alias warung dekat hotel. Nampaknya gak salah pilih lokasi, di situ ada lokasi dengan title Arek Surabaya. Woow. Langsung aja masuk, order lontong sayur yang rasanya lumayan mak nyuss. Ternyata yang punya memang orang Surabaya, terjadilah conversation dalam bahasan Indonesia campur Jawa di warung itu.

Destination pertama ke Gardens by the Bay di kawasan MBS. Sengaja ke sana pagi biar gak terlalu panas. Menurutku Gardens by the Bay (GB, disingkat sendiri)  dan Marina Bay Sand (MBS) ini memang menunjukkan keseriusan Singapore untuk mengambangkan pariwisata. Perpaduan arsitektur futuristic dan keindahan taman yang kaya jenis flora tropis, memang berhasil membuat wisatawan untuk mendatangi tempat ini sebagai syarat kelengkapan foto dengan background landmark Singapore,  atau buat para citizen yang ingin sekedar relaxing di taman kota.

koridor menuju Gardens, dari MRT station Bayfront
GB di siang hari menarik dengan pesona ragam koleksi tanaman dan landscape nya, meskipun tetap saja kalau buatku lebih menarik pepohonan di hutan atau gunung yang masih alami. Sementara di malam hari, cahaya lampu warna-warni yang berbentuk pohon raksasa juga menawarkan pesona dan ambience yang romantis. Nampaknya bukan hanya warga lokal, tapi banyak juga wisatawan yang datang ke tempat ini. Saya juga melihat ada beberapa orang TKW Indonesia yang sedang menikmati libur hari minggunya di tempat ini (knowing by listening the conversation).

para TKW Indonesia tengah menikmati weekend
Taman di sini dibagi menjadi beberapa tema seperti India, Jepang, China, meskipun saya kurang
ngerti perbedaan besarnya apa selain di patung2nya, karena tanamannya semua tanaman tropis. koleksi tanaman di sini cukup beragam, tak jarang di hari sekolah banyak rombongan pelajar yang mendatangi GB untuk belajar, jadi taman ini menjadi laboratorium hidup yang cukup mengasikkan. Satu hal, kebersihan dan kerapian yang sangat terjaga khas Singapore menjadi daya tarik dan membuat tempat2 di Singapore mengasikkan.

MBS hotel dari GB

Sampah dipisahkan jadi 4 jenis (gak ada pemulung siih..)

Beautiful garden

System pengairan...belajar ekolog juga nih

Puas berjalan-jalan di Gardens by the Bay, kami lanjut ke Marina bay Sand. cukup berjalan kaki menuju underpass yang juga lokasi mrt station bayfront. Hanya melihat-lihat toko dan berfoto sebentar, lalu kami lanjut ke patung Merlion. Mungkin hari Minggu memang selalu ramai dipenuhi pengunjung, apalagi yang dilakukan kalau bukan berfoto di bawah patung Merlion :)
Esplanade dan Merlion dari MBS

Spot wajib untuk foto buat yang baru pertama ke Spore :)
Kalau kita lihat perairan di sekitar Merlion sangat bersih tanpa sampah. Ini bukan tanpa upaya,
kebetulan saat itu kami melihat perahu yang khusus untuk membersihkan sampah yang ada di perairan tersebut.  Satu bungkus plastik pun tidak akan dibiarkan mengapung di laut oleh si petugas kebersihan.

perahu khusus membersihkan sampah di marina bay

Dari kawasan Merlion, rasa lapar membawa kami mencari tempat makan. kebetulan kami berjalan di area City Hall, kami menuju food court di basement. Karena bingung mencari makanan halal, akhirnya back to basic...makanan terpaksa yaitu KFC yang ada label halalnya.

Selesai makan, hubby harus kembali ke Jakarta, dari stasiun City Hall kami bergegas ke Changi Airport. Hubby harus kembali karena Senin sudah masuk kerja lagi, sementara aku harus lanjut tinggal di sini seminggu lagi untuk ikut conference. Dan setelah kembali dari bandara, saya harus menuju hotel untuk pindah ke hotel berikutnya (bintangnya lebih banyak karena udah pakai jatah dari kantor...xixixi).
Cerita selama conference disambung lagi kalau sudah sempat :)

Selasa, 30 April 2013

Singapore Trip 1


Mumpung lagi mood nulis blog, dan kalo lihat blog ku ini sudah sekian lama kosong tanpa isi (memang rada males nulis siih). Sebetulnya banyak bahan yang bisa ditulis sih, tapi memang kembali ke kemauan untuk selalu rajin menulis dan mengupdate blog. Setelah mencari-cari informasi tentang berbagai hal dan sering ketemu informasi yang bermanfaat justru dari blog, aku mulai berniat untuk sering update blog agar bisa lebih banyak sharing dengan sesama blogger atau mereka yang perlu informasi dan mengandalkan om google.

Kali ini aku coba tulis sedikit tentang trip ke Singapore. Trip ini untuk business sekaligus pleasure, hehe. Iya karena pas ada acara dari kantor seminggu di sini mulai senin, aku berangkat Sabtu pagi biar bisa jalan-jalan sedikit lah di Sabtu-Minggu nya. Dan yang special, kali ini suamiku mau ikut untuk sabtu-minggu nya. Biasanya kan kami pergi sendiri-sendiri kalau hanya untuk pekerjaan.

Sampai bandara Sabtu, kami langsung menuju hotel yang sudah saya booking sebelumnya, Karena untuk 2 hari ini masih bayar sendiri (belum masuk hari yang ditanggung kantor) saya booking budget hotel di kawasan Bugis. Budget hotel di Singapore dengan bintang 2 ini, kalau di Jakarta sudah bisa dapat sekelas Novotel, Mulia atau yang bintang 4-5 kayaknya. Kamarnya pun kecil dan tanpa breakfast. Tapi untuk kebersihan dan fasilitas wifi serta TV cukup lumayan lah. Lagian gak spending much day di kamar, kita kan lebih banyak ada di luar.

Kalau tour destination, jujur aja gak banyak yang menarik buatku di negara kecil yang menjadi hub international di Asia Tenggara ini. Ya, dengan luas negara yang hanya sebesar Jakarta, mungkin memang secara geografis tidak banyak tempat yang bisa diandalkan sebagai destinasi wisata. Tapi beruntung dengan luas yang kecil dan kemajuan ekonominya, Singapore lebih mudah mengatur Negara dan rakyatnya dan melakukan pembangunan pesat di sana-sini. Jadilah mereka mengandalkan objek wisata buatan manusia yang mungkin untuk golongan tertentu lebih menarik daripada wisata alam (kebalikan saya).
Kalau orang Indonesia suka main ke Singapore terutama karena belanjanya, atau gak tahan denger iming-iming yang lagi happening seperti Universal Studio, Cable Car, bianglala, MBS, dan yang semacamnya. Humm, kenapa aku malah gak tertarik ke tempat-tempat kayak gitu ya? Ya, masing-masing orang punya selera.

Tapi kalau untuk belanja, siapa sih cewek yang gak tertarik? Hihi. Asal bisa ngitung aja antara budget dan expense dan harus punya pembanding harga di Jakarta. Memang di sana sering discount gede-gede an buat ngabisin stok barang lama, yang mungkin di Jakarta masuk new arrival. Tapi kalau dihitung dikali kurs rupiah, ujung-ujungnya harganya sama dengan di Jakarta…weks. Kalau kayak gitu ngapain bawa barang berat-berat dan cuman nambahin devisa ke Negara yang udah kaya ini. Saran : mending di Singapore beli barang yang memang gak ada di Jakarta atau benar-benar discount dan lebih murah. Be a smart shopper!

Hari pertama kami gak banyak agenda selain ke kawasan mall. Mulai dari Bugis sampai Orchard dengan mengandalkan MRT. Inilah salah satu yang aku suka dari Singapore. Transportasi yang nyaman dan bisa diandalkan. Kalau naik taxi ke mana-mana harus merogoh kocek dalam-dalam, untungnya dengan MRT kita bisa menghemat sampai tinggal 20% nya. Gak perlu takut bingung dan nyasar karena petunjuk dan pos informasi ada di mana-mana. Hanya siapkan kaki yang kuat untuk berjalan, karena memang berjalan sudah menjadi bagian hidup di Singapore (pantesan orangnya langsing-langsing ya).

malam di Orchard

Siang sampai sore hari kami habiskan di orchard. Gak banyak yang bisa dilakukan di sini selain beli-beli sedikit baju, jalan dan foto-foto. Karena perut sudah minta diisi, akhirnya kami menuju food court Takasimaya. Oh iya, paginya kami sarapan di McD Bugis Junction. Fast food ini memang menu terpaksa dan menu andalan kalau sedang travelling. Karena meskipun di Singapore, ada label halalnya (malahan di Indonesia gak selalu ada). Makan siang menjelang sore kami beli menu masakan melayu-India di salah satu stall food village di Takasimaya. Kalau soal rasa gak ada yang recommended di Singapore. Yang penting halal dan harga masih realistis.

Setelah makan, kami bergegas menuju ke MRT Orchard, bukan langsung kembali ke hotel, tapi lanjut belanja ke Mustafa. Sepertinya toserba yang sudah sangat terkenal di kalangan pelancong Indonesia karena harganya yang “miring” ini a must list kalau kita pas jalan-jalan ke Singapore. Dari Orchard station kami beli tiket menuju Farrer Park station, transit di Dobby Ghaut.

Entrance ke Orchard MRT, di depan ION Plaza
Di Mustafa, kalau gak kuat mental dan gak punya pembanding harga Jakarta…bisa kalap. Karena di sini semua ada, harga terlihat murah (setidaknya dibanding mall2 kawasan Orchard), dan banyak produk unyu-unyu yang gak ada di Indonesia. Mau beli jam tangan branded, ada. Mau travel bag, kosmetik, aksesoris, cokelat, snack, ramuan herbal, perhiasan emas, toiletries, parfum original, ada semua. Saya hanya berniat beli sedikit oleh-oleh, tapi ternyata…oleh-olehnya jadi banyak ^_^ Mulai kaos, mainan anak, body lotion, cream bath traditional India, dan makanan yang jarang ketemu di Indonesia. 

bersambung ...

Minggu, 18 September 2011

The Way We Were (2) : Dan Columbus-pun Bukan Penemu Benua Baru…

Repost dari Blog Bapak Muhaimin Iqbal (GeraiDinar.com)

Oleh Muhaimin Iqbal   
Jum'at, 16 September 2011 08:09
Bayangkan suasana batinnya ketika pada tahun 1492 Christopher Columbus memulai perjalannya menyeberangi Atlantic, saat itu ekspedisi dia ini disponsori oleh Ratu Isabella yang pada tahun tersebut baru saja berhasil menguasai Granada – wilayah Islam terakhir di tanah Spanyol.  Maka tidak heran bila  Columbus di awal catatan perjalanannya menulis “…Your Highnesses, as Catholic Christians, and princes who love and promote the holy Christian faith, and are enemies of the doctrine of Mahomet…”.  Bayangkan pula  bila jauh-jauh berlayar dalam upaya menemukan benua baru, Columbus menemukan bahwa orang-orang Islam yang dibencinya ternyata lebih dahulu sampai ke benua tersebut ?.

Tentu dia tidak ingin membuat ratu Isabella yang mensponsorinya gusar dengan mengabarkan bahwa orang-orang Islam ternyata sudah lebih dahulu sampai di benua baru yang di klaim sebagai temuannya. Maka temuan Columbus atas adanya muslim di benua tersebut hanya muncul di catatan harian pribadinya saja, bahwa pada tanggal 21 October 1492 ketika mendekati Gibara di timur laut pantai Cuba dia melihat ada masjid di bukit yang indah. Perlu diingat bahwa sepanjang ratusan tahun budaya Islam sudah mendominasi Spanyol dan sebagian Eropa – jadi Columbus tahu persis apa yang disebutnya masjid itu – bukan sekedar bangunan yang mirip masjid – yang coba dibelokkan oleh para sejarawan barat. Bahkan Columbus juga menyebut orang-orang Caribbean yang ditemuinya sebagai “Mohemmedans” – pengikut Muhammad  - lagi-lagi karena Columbus paham seperti apa pengikut Muhammad itu !.

Tetapi begitulah, realita sejarah bisa dengan mudah tenggelam oleh kepentingan politik agama yang diberlakukan dengan ekstrim oleh Ratu Isabella yang mensponsori Columbus. Sehingga untuk berabad-abad kemudian di klaim-lah oleh mereka ini bahwa merekalah yang menemukan benua baru Amerika – meskipun bukti-bukti sejarah kemudian mulai bermunculan dan klaim mereka mulai diragukan.

Di antara bukti-bukti sejarah ini diungkap oleh seorang Arkheolog dan ahli bahasa Hardvard University kelahiran New Zealand – DR. Barry Fell.  Beliau inilah yang mengungkapkan temuan adanya tulisan berupa text, diagram dan chart di batu yang dia temukan di Amerika bertuliskan huruf Arab kuffic.  Batu yang dipahat untuk tujuan pembelajaran dibidang matematika, geography, sejarah, astronomi dan navigasi laut ini – diyakininya dibuat antara tahun 700-800 Masehi, sekitar abad ke 2 – 3 Hijriyah – atau sekitar 8 abad sebelum Columbus menginjakkan kakinya di benua baru yang diklaimnya.

Lantas apa kepentingannya kita belajar sejarah demikian ?. Begitu banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang isinya tentang sejarah maupun yang memerintahkan kita untuk belajar dari sejarah. Melaui sejarah – yang benar , yang tidak dibelokkan - inilah kita bisa mengetahui pencapaian-pencapaian umat ini di masa lampau dan juga kegagalan-kegagalannya.

Bila dahulu umat ini menjadi penemu daerah-daerah baru, ilmu-ilmu baru dari matematika, kedokteran, astronomy, pertanian, keuangan dan tidak terhitung banyaknya temuan lainnya;  maka sudah sepantasnya-lah umat yang hidup di jaman ini juga mencita-citakan pencapaian  yang sama. Lantas darimana kita akan memulainya ?.  Menurut saya tidak ada cara lain kecuali kita kembali ke sumber segala ilmu, “…petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk-petunjuk tersebut …” (QS 2 : 185).
 
Try Out  DM Lil-Inaats , Al-Qur'an di setiap sudut rumah...Try Out DM Lil-Inaats , Al-Qur'an di setiap sudut rumah...
Untuk mengawali cita-cita besar tersebut, lebih dari sebulan lalu kami ‘mencangkok’ proses penyiapan generasi Qur’ani kedepan dengan Madrasah Al-Qur’an Daarul Muttaqiin, insyaAllah besuk kami akan mulai lagi kelas baru yang kami sebut Madrasah Al-Qur’an Lil-Inaats (Pesantren Putri).  Mereka inilah nantinya yang insyaAllah akan melahirkan generasi cucu-cucu kita yang akrab dengan Al-Qur’an (karena ibunya hafidzah yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an setiap saat) semenjak mereka di kandungan, ketika di buaian dan di usia-usia awal yang sangat penting dalam membentuk karakternya.

Dahulu kita berjaya dengan Al-Qur’an, maka dengan kembali kepada Al-Qur’an inilah insyaAllah kita akan berjaya kembali. InsyaAllah.

Senin, 11 Juli 2011

Tidung Island Journey


Thousand islands, the island extending along Java sea, at just the north side of Jakarta. It is administratively a part of DKI Jakarta province. This is not a new destination for having my vacation as I had severally came visit Bidadari island, Pramuka island, and the surrounding. But one other, Tidung island is a piece of island that I haven’t heard or seen before.

It happen by a change when I was browsing, I found the advertorial from a travel agent about Tidung island promo tour with only 300,000 rupiahs per person. It's normally around 600,000. After digging deeper information I decided that in a weekend on July I must join this tour. And finally on 9-10th of July, I and my husband went there.

Same as going to Pramuka island, we reached this island from Muara Angke by a traditional ship. It took 3 hours to get there. The wave isn’t really friendly to us that cause me to have a nausea.
As arrived to this island, we were greet by our local tour guide. He handed us two bikes to go along the road from the port to our homestay. As it is a promo tour with low budget, our room is a shared room with other travelers. First agenda as per our itinerary is exploring Tidung island by bike. 

I forgot to mention that this island is actually consists of 2 parts, Tidung besar (big Tidung) and Tidung kecil (small Tidung). The name follows the size of the island. Tidung besar is the main island with dense resident and other developed facilities such as hospital, high school and fish conservation. While  the Tidung kecil is uninhabited. These islands are connected by a bridge called Jembatan Cinta (love bridge). 

Jembatan Cinta and Tidung kecil is our first destination to explore. We went there by bike. After parking the bike we took a walk to the bridge. There were so many people already standing along the bridge enjoying the view. This bridge expands along about 1 km west to east. It is made of wood, some pieces of wood were broken and some under construction. As we reached Tidung kecil, we saw people relaxing under coconut tree, drinking coconut water, taking picture or just seeing their kids playing in the crystal clear shallow water, in front of their eyes, beautiful, while I had myself a cup of coffee (my anywhere, anytime joyable drink).

As seeing people having fun on the beach, I can’t hold myself to go into the water and get wet. But it’s not too convenience to swim that time because I’m not prepared with swim clothes. So I and my husband prefer to get a canoe. The rental fee is 45,000 rupiahs for double canoe with 1 hour time, quite cheap. It’s a great experience rowing the canoe surrounding the beach. Though at first I didn’t mean to swim, but as seeing the water I finally jump from the canoe and enjoying the sea water. Other people enjoy themselves with banana boat, which can be rented with 35,000 rupiahs, some other fearless men jump from a 10 meters high bridge to the water, and some just simply taking picture in the best pose they could. 

This afternoon was ended eating roasted corn and drink coconut water, so rejuvenating.  Just a moment after it, I and my hubby bike to the west side of the island to hunting sunset. Unfortunately the cloudy sky made it not performing its golden light at its best. However we can still see a full magenta circle of the sun at this dusk.

At night we had barbeque party. Big fishes, which I didn’t know the name, and calamari were the main menu for dinner. Cause it was a bit too late to have dinner, most of us can’t take a lot too eat, beside we all felt sleepy and just wanna go sleep.

Wake up at 5 early morning I had pray and then tried to catch up the sunrise by bike. But we just remembered at 6 we should be ready to go snorkeling. I’m afraid the time is not enough for it so I just getting back to the room and prepare for snorkeling. This is actually the agenda I like the most. It’s been long time I haven’t do snorkeling after last time I had in Belitung island. This time we both and other 7 people were taken by a small boat to Payung island (Umbrella island Eng.). It took about 40 minutes to here. The trip to this place worth the underwater scene that we enjoyed through our goggles. I was a bit upset to see some reefs got damages. It looked like caused by boat anchor or some foot steps on it.  Nevertheless, we can still found colorful reefs, vegetations and fishes that looks amazing and refreshing our mind.

Satisfied with snorkeling, we go back and took shower in the homestay and prepared to get back to Jakarta. I actually wanted to take more pictures but time was not compromising. We return by ship to Jakarta at 12am.
This is a journey that I wanna redo again someday.